Dalam bahasa Arab, as-sahur (السَّحُوْرُ) dengan mem-fathah huruf sin adalah benda makanan dan minuman untuk sahur.
Adapun as-suhur (السُّحُوْرُ) dengan men-dhommah huruf sin adalah
mashdar yakni perbuatan makan sahur itu sendiri. (An-Nihayah, 2/347)
Hukum Sahur
Hukum makan sahur adalah sunnah, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik
radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Para ulama telah bersepakat tentang
sunnahnya makan sahur dan bukan suatu kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim,
7/207)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam
mendorong kita untuk tidak meninggalkan makan sahur meskipun hanya
dengan seteguk air. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id
Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda:
السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ …
“Makan sahur adalah barakah maka janganlah kalian meninggalkannya
meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air.” (HR.
Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sahur dapat diperoleh
seseorang yang makan dan minum meskipun hanya sedikit.” (Fathul Bari,
4/166)
Keutamaan Sahur
Adapun mengenai keutamaan sahur,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam
beberapa hadits di bawah ini:
1. Dalam sahur terdapat barakah
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً
Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sahurlah kalian, karena
sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitabnya (Fathul Bari,
4/166): “Dan yang utama (dari tafsiran “barakah” yang terdapat dalam
hadits) sesungguhnya barakah dalam sahur dapat diperoleh dari beberapa
segi, yaitu:
a. Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
b. Menyelisihi ahli kitab.
c. Menambah kemampuan untuk beribadah.
d. Menambah semangat.
e. Mencegah akhlak yang buruk yang timbul karena pengaruh lapar.
f. Mendorong bersedekah terhadap orang yang meminta pada waktu sahur atau berkumpul bersamanya untuk makan sahur.
g. Merupakan sebab untuk berdzikir dan berdoa pada waktu mustajab.
h. Menjumpai niat puasa bagi orang yang lupa niat puasa sebelum tidur.
2. Pujian Allah Ta’ala dan doa para malaikat terhadap orang-orang yang sahur
السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ
أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
وَالْمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ
Dari Abu
Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda: “Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah
kalian meninggalkannya meskipun salah satu di antara kalian hanya minum
seteguk air. Sesungguhnya Allah ta’ala dan para malaikat-Nya bershalawat
atas orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul
Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)
3. Menyelisihi puasa ahli kitab
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Yang membedakan antara puasa kami
(orang-orang muslim) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR.
Al-Imam Muslim dan lainnya)
Al-Imam Sarafuddin Ath-Thiibi
rahimahullah berkata: “Sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan
puasa Ahli Kitab, karena Allah ta’ala telah membolehkan kita sesuatu
yang Allah Ta’ala haramkan bagi mereka, dan penyelisihan kita terhadap
ahli kitab dalam masalah ini merupakan nikmat (dari Allah Ta’ala) yang
harus disyukuri.” (Syarhuth-Thiibi, 5/1584)
Waktu Sahur
Waktu yang utama untuk makan sahur adalah dengan mengakhirkan waktunya
hingga mendekati terbit fajar. Dan mengakhirkan waktu sahur ini
merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana
hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit radiyallahu
‘anhu, beliau bekata:
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ: كَمْ
كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسِيْنَ آيَةً
“Kami makan
sahur bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian (setelah
makan sahur) kami berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku (Anas bin
Malik) berkata: ‘Berapa perkiraan waktu antara keduanya (antara makan
sahur dengan shalat fajar)?’ Zaid bin Tsabit radiyallahu ‘anhu berkata:
‘50 ayat’.” (Muttafaqun ‘alaih)
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan dalam Shahih Al-Bukhari:
بَابُ قَدْرِ كَمْ بَيْنَ السُّحُوْرِ وَصَلاَةِ الْفَجْرِ
“Bab perkiraan berapa lama waktu antara sahur dengan shalat fajar”.
Maksudnya (jarak waktu) antara selesainya sahur dengan permulaan shalat
Fajar. (Fathul Bari, 4/164)
Dan hal ini sebagaimana telah
diterangkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih Al-Bukhari
pada kitab Tahajjud, dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, beliau
ditanya:
كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سُحُوْرِهِمَا
وَدُخُوْلِهِمَا فِي الصَّلاَةِ؟ قَالَ: قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ
خَمْسِيْنَ آيَةً
“Berapakah jarak waktu antara selesainya Nabi
shallallahu alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit radiyallahu ‘anhu makan
sahur dengan permulaan mengerjakan shalat (subuh)? Beliau menjawab:
‘Seperti waktu yang dibutuhkan seseorang membaca 50 ayat (dari Al
Qur`an)’.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari
(4/164) menyebutkan: “(Bacaan tersebut) bacaan yang sedang-sedang saja
(ayat-ayat yang dibaca), tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu
pendek, dan (membacanya) tidak cepat dan tidak pula lambat”.
Bila kita sebutkan dengan catatan waktu maka kira-kira jarak antara keduanya 10-15 menit. Wallahu a’lam.
Tamr (Kurma) Sebaik-baik Makanan Untuk Sahur
Terkadang di antara hidangan makan sahur kita terdapat beberapa jenis
makanan dengan beragam rasanya, sehingga kita dapat memilih makanan yang
baik dan disukai. Akan tetapi tahukah anda jenis makanan apa yang
paling baik untuk sahur? Ketahuilah! Sebaik-baik makanan untuk sahur
adalah tamr (kurma), dan sahur dengan tamr merupakan Sunnah Nabi
shallallahu alaihi wasallam berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu
Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau
bersabda:
نِعْمَ سَحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma).” (HR. Abu
Dawud, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 562 dan Shahihul Jami’ish Shaghir,
2/1146 no. 6772)
Ketika kita telah mengetahui hal ini maka
selayaknyalah bagi kita untuk mengamalkan Sunnah Nabi kita Muhammad
shallallahu alaihi wasallam.
Andhika Ridho Suseno
0 komentar:
Posting Komentar